Halaman

Minggu, 31 Maret 2013

Lambang Kabupaten Madiun

Lambang Kabupaten Madiun
Lambang Kabupaten Madiun
Makna Lambang Kabupaten Madiun

Bentuk Seluruhnya merupakan Perisai : Lambang Pertahanan
II. Bintang Bersudut 5 ( Lima ) : Lambang Pancasila
III. Pohon Beringin : Lambang Kesentausaan dan Kehidupan
IV. Keris : Pusaka Nenek Moyang sebagai Lambang Kebudayaan
V. Sayap : Lambang Kekuatan semangat mencapai cita-cita
VI. Padi dan Kapas : Lambang Kemakmuran Rakyat
VII. Warna-warna yang dipakai
a. Putih (Pita, Kapas) : Lambang Kesucian
b. Hijau (Beringin, Daun Kapas, Padi) : Lambang Penghargaan
c. Merah (Pangkal Sayap) : Lambang Keberanian
• Kuning (Emas) Sayap, Padi,
Pinggiran, Pita, Bintang : Lambang Keluhuran
e. Hitam (Warna dasar) : Lambang Keabadian

Geografis Kabupaten Madiun

Kondisi Geografis Daerah Kabupaten Madiun
Luas wilayah 1.010,86 Km2 atau 101.086 Ha, secara administratif pemerintahan terbagi ke dalam : 15 Kecamatan, 8 Kelurahan, 198 Desa. Secara astronomis terletak pada posisi 7o12’-7o48’30” Lintang Selatan dan 111o25’45”-111o51” Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
• Sebelah Utara : Kabupaten Bojonegoro
• Sebelah Barat : Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi
• Sebelah Selatan : Kabupaten Ponorogo
• Sebelah Timur : Kabupaten Nganjuk
Bentuk permukaan lahan wilayah Kabupaten Madiun sebagian besar (67.576 Ha) relatif datar dengan tingkat kemiringan lereng 0-15%.
Secara terinci kemiringan lereng Kabupaten Madiun sebagai berikut :
  • 0-12 %       seluas  44.278,375  Ha (43,80 %)
  • 2-15 %       seluas  23.298,92    Ha (23,05 %)
  • 15-40 %     seluas  15.585,00    Ha (15,59 %)
  • dan > 40% seluas  17.140,00    Ha (16,85 %)
Berdasar penggunaan lahan Wilayah Kabupaten Madiun terinci sebagai berikut :
• Pemukiman/Pekarangan    15.322,26 Ha 15,16 %
• Sawah   30.951,00 Ha 30,62 %
• Tegal   7.091,54 Ha 7,02 %
• Perkebunan   2.472,00 Ha 2,45 %
• Hutan Negara    40.511,00 Ha 40,08 %
• Perairan (Kolam/waduk)   836,00 Ha 0,83 %
• Lain-lain (jalan,sungai,makam)   3.0902,20 Ha 3,86 %

Kabupaten Madiun Dalam Sejarah

Kabupaten Madiun Dalam Sejarah
Lambang Kabupaten Madiun
Sejarah Kabupaten Madiun

Kabupaten Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah, berdiri pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi tepatnya jatuh hari Karnis Kilwon tanggal 18 Juli 1568 / Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be - Jawa Islam.
Berawal pada masa kesultanan Demak, yang ditandai dengan perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus dengan Raden Ayu Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan Dolopo. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. (Sogaten = tempat Rekso Gati)
Pangeran Timoer dilantik menjadi Supati di Purabaya tanggal 18 Jull 1568 berpusat di desa Sogaten. Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518 - 1568.
Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo atau Kuncen, Kota Madiun sampai tahun 1590.
Pada tahun 1686, kekuasaan pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Bupati Pangeran Timoer (Panembahan Rama) kepada putrinya Raden Ayu Retno Djumilah.. Bupati inilah selaku senopati manggalaning perang yang memimpin prajurit-prajurit Mancanegara Timur.
Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya yang hanya dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kesil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun)
Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Pleret (Jogyakarta) sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut maka pada hari jum'at Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi nama “Purbaya” diganti menjadi “Madiun ”